puisi

Siapa Dholimi Aku
Add caption

Demi anak - anak bangsaku
aku mengabdi jadi guru
Lillahi ta`ala
kuajarkan semua yang aku tahu

Dengan Jerih lima puluh tujuh ribu
Kurelakan kakiku melepuh tergerus waktu
Kupejamkan mata ketika anakku minta susu
kupalingkan wajah ketika istriku menambal baju
Allaaaaaaaaaaaaaaaah........
kepedihan menggilas paru -paru
dan.....
belasan tahunpun berlalu dalam deru dan debu

lalu tiba - tiba
kudengar angin surga berhembus menderu
kusaksikan satu persatu mendapat baju
bahkan yang tak pernah pegang buku
siapa dholimi aku  ???
mengapa aku tak mendapat baju ????

kucoba adukan nasibku
kuketuk beribu pintu
namun suara kecilku .......
terbang bagai debu
terabai bagai angin lalu

Allaaaaaaaaaaaaah......
mereka tertawakan aku...
mereka usir aku......
hingga akupun menepi
ke sudut sekolah yang bisu

yaah.....
mungkin aku memang tak layak jadi guru
karena jazahku lusuh
tanpa nilai sepuluh
hingga pengabdianku yang penuh peluh
terhimpit di bawah meja yang angkuh...

lagipula di sana
aku tak punya siapa - siapa
sehingga akupun terluput dari data




NYANYIAN  EMBUN


Di suatu pagi
Kudengar  embun bernyanyi
Kusimak  dengan teliti
Ternyata ia berzikir memuji ilahi

Ketika mentari  membawanya pergi
Ia kumandangkan  shalawat  Nabi
Suaranya membahana
Memenuhi jagat raya

Aku terkesima
Teringat diri yang hina
Diri yang sering  lupa
Pada  Tuhan Pemilik semesta

Padahal aku ibarat embun
Hanya sejenak turun
Dan tak lama akan kembali dihimpun
Namun dalam  yang sejenak itupun
Aku sering lalai tertegun

Tuhan…. Aku mohon ampun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar