![]() |
| Add caption |
Demi anak - anak bangsaku
aku mengabdi jadi guru
Lillahi ta`ala
kuajarkan semua yang aku tahu
Dengan Jerih lima puluh tujuh ribu
Kurelakan kakiku melepuh tergerus waktu
Kupejamkan mata ketika anakku minta susu
kupalingkan wajah ketika istriku menambal baju
Allaaaaaaaaaaaaaaaah........
kepedihan menggilas paru -paru
dan.....
belasan tahunpun berlalu dalam deru dan debu
lalu tiba - tiba
kudengar angin surga berhembus menderu
kusaksikan satu persatu mendapat baju
bahkan yang tak pernah pegang buku
siapa dholimi aku ???
mengapa aku tak mendapat baju ????
kucoba adukan nasibku
kuketuk beribu pintu
namun suara kecilku .......
terbang bagai debu
terabai bagai angin lalu
Allaaaaaaaaaaaaah......
mereka tertawakan aku...
mereka usir aku......
hingga akupun menepi
ke sudut sekolah yang bisu
yaah.....
mungkin aku memang tak layak jadi guru
karena jazahku lusuh
tanpa nilai sepuluh
hingga pengabdianku yang penuh peluh
terhimpit di bawah meja yang angkuh...
lagipula di sana
aku tak punya siapa - siapa
sehingga akupun terluput dari data
NYANYIAN EMBUN
Di suatu pagi
Kudengar embun bernyanyi
Kusimak dengan teliti
Ternyata ia berzikir memuji ilahi
Ketika mentari membawanya pergi
Ia kumandangkan shalawat
Nabi
Suaranya membahana
Memenuhi jagat raya
Aku terkesima
Teringat diri yang hina
Diri yang sering lupa
Pada Tuhan Pemilik semesta
Padahal aku ibarat embun
Hanya sejenak turun
Dan tak lama akan kembali dihimpun
Namun dalam yang sejenak itupun
Aku sering lalai tertegun
Tuhan…. Aku mohon ampun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar